
Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis (juga dikenal sebagai etika korporasi) adalah suatu bentuk etika terapan atau etika profesi yang mempelajari prinsip-prinsip etis dan moral atau masalah-masalah etika yang muncul dalam lingkungan bisnis.
A. Definisi dan Pengertian Etika Bisnis
Penerapan etika bisnis dalam suatu organisasi
yang bertujuan memperoleh laba dengan cara menghimpun dana dari masyarakat
merupakan isu yang sering dikaji secara mendalam. Secara teoritis penerapan
etika merupakan suatu hal yang mudah dilakukan dan diterapkan.
Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan
kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu,
perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis (juga dikenal sebagai etika
korporasi) adalah suatu bentuk etika terapan atau etika profesi yang
mempelajari prinsip-prinsip etis dan moral atau masalah-masalah etika yang
muncul dalam lingkungan bisnis (sumber: Wikipedia). Ini berlaku untuk semua
aspek perilaku bisnis dan relevan dengan perilaku individu dan organisasi
bisnis secara keseluruhan. Etika Terapan adalah bidang etika yang berhubungan
dengan pertanyaan-pertanyaan etis dalam berbagai bidang seperti medis, teknik,
hukum dan etika bisnis. Etika bisnis dapat menjadi suatu disiplin ilmu baik
normatif maupun deskriptif. Sebagai praktik perusahaan dan spesialisasi karir,
bidang ini terutama normatif.
Bentuk salah satu etika bisnis terapan adalah
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR)
adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan memiliki suatu
tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan
lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. CSR berhubungan erat
dengan “pembangunan berkelanjutan”, di mana ada argumentasi bahwa suatu
perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak
semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan
juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun
untuk jangka panjang.
B. Isu -Isu Dalam Etika Bisnis
Isu-isu dalam etika bisnis meliputi hal-hal
berikut ini.
- Jika tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan keuntungan
bagi pemegang saham, maka secara etis perusahaan harus juga
mempertimbangkan kepentingan dan hak-hak orang lain.
- Tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, suatu istilah umum di
mana hakhak dan kewajiban etika yang ada antara perusahaan dan masyarakat
diperdebatkan.
- Isu mengenai hak-hak moral dan tugas antara perusahaan dan pemegang
sahamnya: konsep stakeholder ataukah konsep pemegang saham .
- Masalah etis tentang hubungan antar perusahaan yang berbeda,
misalnya: saling bermusuhan misal perang harga, spionase industri, dsb.
- Masalah Kepemimpinan: tata kelola perusahaan dan usaha sosial
perusahaan.
- Kontribusi politik yang dibuat oleh perusahaan.
- Reformasi hukum, seperti perdebatan etis memperkenalkan kejahatan
mematikan perusahaan.
- Penyalahgunaan kebijakan etika perusahaan sebagai instrumen pemasaran.
Apabila moral merupakan sesuatu yang mendorong
orang untuk melakukan kebaikan etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang
merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia
bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang
menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi. Etika sebagai
rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan
mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang
harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu
harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta
kelompok yang terkait lainnya.
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah:
- Pengendalian diri Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang
terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak
memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun / berbuat
kecurangan.
- Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility). Pelaku
bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya
dalam bentuk “uang” dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih
kompleks lagi.
- Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing
oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi.
- Menciptakan persaingan yang sehat. Persaingan dalam dunia bisnis
perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan
tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat
jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah ke
bawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu
memberikan spread effect terhadap perkembangan
sekitarnya.
- Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”. Dunia bisnis
seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi
perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang.
- Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan
Komisi).
- Mampu menyatakan yang benar itu benar. Artinya, kalau pelaku bisnis
itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena
persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan “katabelece” dari
“koneksi” serta melakukan “kongkalikong” dengan data yang salah.
- Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan
golongan pengusaha kebawah. Untuk menciptakan kondisi bisnis yang
“kondusif” harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat
dengan golongan pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang
bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan.
- Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati
bersama.
- Menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang
telah disepakati.
- Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu
hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan.
D. Prinsip-Prinsip Etika Bisnis
Menurut
salah satu sumber yang penulis kutip ada lima prinsip etika bisnis menurut
Keraf (1994:71-75) diantaranya adalah:
- Prinsip Otonomi.
Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia
untuk bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri. Bertindak secara otonom
mengandaikan adanya kebebasan mengambil keputusan dan bertindak menurut
keputusan itu. Otonomi juga mengandaikan adanya tanggung jawab. Dalam dunia
bisnis, tanggung jawab seseorang meliputi tanggung jawab terhadap dirinya
sendiri, pemilik perusahaan, konsumen, pemerintah, dan masyarakat.
- Prinsip Kejujuran.
Prinsip kejujuran meliputi pemenuhan
syarat-syarat perjanjian atau kontrak, mutu barang atau jasa yang ditawarkan,
dan hubungan kerja dalam perusahaan. Prinsip ini paling problematik karena
masih banyak pelaku bisnis melakukan penipuan.
- Prinsip Tidak Berbuat Jahat dan Berbuat
Baik.
Prinsip
ini mengarahkan agar kita secara aktif dan maksimal berbuat baik atau
menguntungkan orang lain, dan apabila hal itu tidak bisa dilakukan, kita
minimal tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau mitra bisnis.
- Prinsip Keadilan.
Prinsip ini menuntut agar kita memberikan apa
yang menjadi hak seseorang di mana prestasi dibalas dengan kontra prestasi yang
sama nilainya.
- Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri.
Prinsip ini mengarahkan agar kita memperlakukan
seseorang sebagaimana kita ingin diperlakukan dan tidak akan memperlakukan
orang lain sebagaimana kita tidak ingin diperlakukan.
Ref: